<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?>
<?xml-stylesheet type="text/xsl" href="/rss20.xsl" media="screen"?>
<rss xmlns:itunes="http://www.itunes.com/dtds/podcast-1.0.dtd" version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<atom:link href="http://blognyamikha.blogspirit.com/article/index.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
<title>blognya mikha - article</title>
<description>blognya mikha</description>
<link>http://blognyamikha.blogspirit.com/article/</link>
<lastBuildDate>Mon, 27 Nov 2006 13:35:36 +0100</lastBuildDate>
<generator>blogSpirit.com</generator>
<copyright>All Rights Reserved</copyright>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2006/11/27/“tan-main-smack-down-yuk-”.html</guid>
<title>“Tan, main smack down yuk.”</title>
<link>http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2006/11/27/“tan-main-smack-down-yuk-”.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (Mikha)</author>
<category>Article</category>
<pubDate>Mon, 27 Nov 2006 13:35:36 +0100</pubDate>
<description>
“Tan, main smack down yuk.” Kata Anes, ponakanku yang masih duduk di kelas 2 SD tahun lalu saat aku berkunjung ke rumahnya. Terus terang aku kurang menanggapi apalagi memikirkan dengan serius ajakannya hingga kemarin saat aku menonton televisi tentang seorang Reza. Dari laporan media, ternyata Reza, bocah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu, akhirnya tewas karena di-smack down teman-temannya. Mungkin Reza sama dengan Anes, sama-sama sering menikmati tontonan Smack Down.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Lalu aku juga teringat kejadian yang menimpa mamakku beberapa tahun lalu. Mamak terkulai lemah. Sakit jantungnya kumat sesaat menonton acara sejenis Smack Down saat malam menunggu detik-detik tahun baru di rumah ompung kami. Aku tidak menyangka efek tontonan itu dapat memicu sakit jantung mamak menjadi kumat. Bahaya memang jarang terlihat sebagai bahaya sebelum jatuh korban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Beberapa hari ini ada yang berbeda di layar televisi di saluran stasiun televisi yang menyiarkan program itu. Ada seorang dewasa sambil senyum-senyum memberitahukan kepada pemirsa yang merasa diri masih anak-anak agar tidak menonton Smack Down. Katanya program itu untuk orang dewasa dan hanya sandiwara saja, dilakukan oleh orang-orang yang terlatih. Ah, apakah orang dewasa juga tidak perlu dihimbau untuk tidak menonton acara tersebut? Menurutku acara tersebut merangsang otak kita untuk menumbuh mekarkan kebengisan dan nafsu membunuh di dalam diri. Apakah semua orang dewasa juga menyadari hal itu hanya sekedar sandiwara? Sepertinya sebelumnya tidak ada pemberitahuan tentang hal ini. Berapa Reza-reza lagi ya yang akan menjadi korban berikutnya? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab terhadap tewasnya Reza dan reza-reza lainnya nanti? Orangtua? Stasiun TV yang menyiarkan? Bocah2 yang melakukan smack down? Tanyakan saja kepada bapak-bapak ahli hukum, pengadilan, pak polisi, atau kepada rumput yang bergoyang. Entahlah, saya sendiri kurang tahu menahu kemana mencari jawabannya. (ms 271106)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Mikha&lt;br /&gt; Tantenya Anes&lt;br /&gt;
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2005/02/23/dusta_dan_susulannya.html</guid>
<title>Dusta dan susulannya</title>
<link>http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2005/02/23/dusta_dan_susulannya.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (Mikha)</author>
<category>Article</category>
<pubDate>Wed, 23 Feb 2005 07:00:00 +0100</pubDate>
<description>
Tidak ada fakta yang membuktikan bahwa manusia ada yang &lt;br /&gt;tidak pernah mengucapkan dusta. Dusta yang satu &lt;br /&gt;mewajibkan kita mengucapkan dusta berikutnya sehingga &lt;br /&gt;dusta yang kita lakukan bisa terlihat seperti bukan dusta. &lt;br /&gt;Begitu seterusnya sehingga akhirnya kita akan terperangkap &lt;br /&gt;dan terjebak dalam dusta-dusta yang kita ciptakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan jika malang melanda, kita bisa lupa pada dusta yang &lt;br /&gt;pernah kita ucapkan. Makanya kalau ingin berdusta, ingatlah &lt;br /&gt;selalu apa, bagaimana dan kapan dusta itu telah diucapkan, &lt;br /&gt;juga kepada siapa saja dusta itu telah kita sampaikan. Maka &lt;br /&gt;selamat datang segala dusta-dusta susulan. Sebaiknya kita &lt;br /&gt;menjauhkan diri dan jangan cepat percaya kepada orang &lt;br /&gt;yang pernah berdusta apalagi suka berdusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis adalah raja segala pendusta. Kalau begitu sebutan &lt;br /&gt;apakah yang layak disandang seorang manusia pendusta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas tentang dusta. (ms/130503)
</description>
</item>
<item>
<guid isPermaLink="true">http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2005/02/23/duhai_televisiku_kamu_kok_gini_sih.html</guid>
<title>DUHAI TELEVISIKU, KAMU KOK GINI SIH...</title>
<link>http://blognyamikha.blogspirit.com/archive/2005/02/23/duhai_televisiku_kamu_kok_gini_sih.html</link>
<author>noreply@blogspirit.com (Mikha)</author>
<category>Article</category>
<pubDate>Wed, 23 Feb 2005 06:20:00 +0100</pubDate>
<description>
Sepulang kerja biasanya saya mengisi istirahat sejenak dengan &lt;br /&gt;menonton televisi. Dengan remote di tangan, saya mencoba &lt;br /&gt;memilih saluran yang menarik dan ringan. Tapi jarang yang &lt;br /&gt;menarik. Satu-satunya yang segar dan cukup menyenangkan &lt;br /&gt;cuma sebuah sinetron tentang kehidupan rakyat kecil di sebuah&lt;br /&gt;sudut kota metropoliltan, Bajaj Bajuri. Selebihnya sampai saat ini &lt;br /&gt;saya masih marah, jengah dan bosan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menu tayangan TV kesayanganku akhir-akhir ini membosankan. &lt;br /&gt;Di stasiun T ada sinetron yang mengumbar kekerasan dunia gaib. &lt;br /&gt;Di stasiun S ada sinetron yang menyajikan kekejaman seorang &lt;br /&gt;tante kepada seorang gadis kecil yang dipaksakan lugu &lt;br /&gt;(atau bodoh?). Bahkan sekolah,  yang seharusnya jeli &lt;br /&gt;mempertimbangkan kualitas sumber daya guru, apalagi BP3, &lt;br /&gt;dianggap terlalu bodoh untuk diperdaya oleh penyamaran si tante &lt;br /&gt;jahat untuk memuluskan rencana penindasan sang tante. &lt;br /&gt;Sementara di stasiun lain sedang menggelar siaran langsung &lt;br /&gt;program menyanyi. Penyanyinya adalah mereka yang pernah&lt;br /&gt;dimenangkan oleh produk teknologi komunikasi, pesan singkat sms. &lt;br /&gt;Bukan oleh objektifitas pada substansi dasar yang diperlukan seorang &lt;br /&gt;penyanyi, suara yang enak dan bagus didengar. Kayaknya semua &lt;br /&gt;yang bisa bersuara sudah boleh muncul di televisi saat ini, asal &lt;br /&gt;nyangkut di hati pemirsa dan punya massa. Aduh mak... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula sinetron yang penggalan kisahnya menceritakan seorang ibu &lt;br /&gt;yang mempermalukan anak gadisnya di depan teman-temannya di &lt;br /&gt;kampus, meneriakinya dan tanpa rasa malu menyuruh anaknya &lt;br /&gt;memilih pria kaya menjadi calon suami pilihan. Wuuih, wuih, &lt;br /&gt;apakah benar ini ada? Atau hanya sekedar imajinasi liar sang penulis &lt;br /&gt;skenario atau memang buah trauma masa lalu sang penulis? &lt;br /&gt;Aduh mak, apa pula ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ada kaitannya atau tidak, saya pernah chatting dengan seorang &lt;br /&gt;teman baru. Katanya dia banyak terlibat dalam produksi &lt;br /&gt;sinetron-sinetron di Indonesia. Aku melihat namanya sering muncul di &lt;br /&gt;antara deretan nama-nama orang yang terlibat dalam tim produksi di &lt;br /&gt;akhir tayangan sinetron. Dia juga memakai nama samaran lain, nama &lt;br /&gt;pacarnya, untuk membantu perusahaan lain menyukseskan produksi &lt;br /&gt;sinetronnya. Katanya pula dia tidak mesti mengecap pendidikan yang &lt;br /&gt;tinggi atau khusus di bidang perfilman untuk lolos terlibat dan berkreasi &lt;br /&gt;serta membumbui cerita dalam produksi tayangan sinetron mereka&lt;br /&gt;Berita lain menyebutkan, ada sinetron yang jalan ceritanya malah &lt;br /&gt;dikarang (dikarang-karang) di lokasi sesaat sebelum shooting. &lt;br /&gt;Apakah ada kaitannya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya takut kita menjadi sangat terbiasa melahap sesuatu yang buruk. &lt;br /&gt;Seorang teman pernah mengatakan sebuah kalimat yang saya rasa &lt;br /&gt;ada benarnya. ”Aku mengganti speaker mobilku dengan yang lebih &lt;br /&gt;baik. Aku tidak mau menjadi imun dengan suara speaker yang kurang &lt;br /&gt;bagus dan kurang sensitif mengenali suara yang berkualitas.&lt;br /&gt;” Aku pikir kita seharusnya begitu juga. Jangan biasakan menikmati &lt;br /&gt;sesuatu yang buruk, nanti daya kecap kita melemah dan menjadi lupa&lt;br /&gt;mana yang baik. Apa karena itu kita kesusahan mendefisikan kata &lt;br /&gt;’pornografi’ dan ’pornoaksi’? Saya sebagai orang awam jadi &lt;br /&gt;bertanya-tanya apakah tidak ada standar penayangan acara yang &lt;br /&gt;menggunakan media massa seperti televisi? Saya kurang tahu juga. &lt;br /&gt;Yah seperti lembaga sensor LSF begitulah, tapi bukan yang harus &lt;br /&gt;selalu didikte baru ngeh lho... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga takut kalau apa yang dikatakan Ted Bundy terbukti benar. &lt;br /&gt;Ted Bundy bukan seorang pakar komunikasi atau seorang peramal. &lt;br /&gt;Ia cuma terpidana mati atas pembunuhan sadis yang dilakukannya &lt;br /&gt;terhadap 29 wanita. Seorang pakar keluarga berkesempatan &lt;br /&gt;mewawancarai Ted beberapa menit sebelum eksekusi hukuman &lt;br /&gt;matinya. Ted memesankankan hal penting. ”Sesuatu sedang terjadi di&lt;br /&gt;kota Anda. Kota Anda terlalu longgar. Ada banyak yang seperti saya.”&lt;br /&gt;Ted Bundy terdorong berperilaku sadis karena setiap waktu disuguhi &lt;br /&gt;dengan sangat bebas akan tontonan dalam berbagai variasi bentuk yang &lt;br /&gt;menggambarkan kekerasan, pornografi, ketidaklogisan, dan trik-trik &lt;br /&gt;jahat yang di sisi lain diklaim sebagai keberhasilan ketika pemerannya &lt;br /&gt;berhasil menipu penonton dengan aktingnya. Atau sebuah kesuksesan &lt;br /&gt;kameraman dan wartawan dalam menangkap dan merekam shoot-shoot &lt;br /&gt;kejadian kriminalitas yang tidak selalu ada setiap hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu demi waktu merupakan bom waktu yang seketika akan &lt;br /&gt;memuntahkan kandungan kebusukan, dimatangkan oleh sajian media &lt;br /&gt;yang buruk, dan dirawat oleh produk undang-undang yang tidak bergigi. &lt;br /&gt;Ada berjuta-juta pasang mata lugu yang setiap waktu sedang menyerap &lt;br /&gt;apapun yang disajikan televisi, baik atau buruk, sebagai ganti &lt;br /&gt;ketidakhadiran orangtua yang sibuk berkarir di luar rumah. Mungkin juga &lt;br /&gt;termasuk sepasang mata anak kebanggaan Anda. Ada berjuta jiwa yang &lt;br /&gt;masih dalam proses belajar mengadopsi nilai-nilai kebenaran dalam hidup. &lt;br /&gt;Mungkin saja termasuk cucu kesayangan Anda. Saya takut ada ratusan &lt;br /&gt;bahkan ribuan Ted Bundy lain akan dieksekusi mati dalam 10 tahun &lt;br /&gt;ke depan. Tolonglah bertindak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebenarnya mampu memproduksi tayangan yang lebih baik, yang &lt;br /&gt;dapat memenuhi kebutuhan akan logika, keindahan, kesantunan, dan &lt;br /&gt;mengandung nilai pendidikan yang positif. Kan sayang dana yang &lt;br /&gt;sangat besar dihabiskan untuk mendanai sebuah tayangan yang &lt;br /&gt;tidak bermutu baik. Mendingan investasikan saja untuk membuka &lt;br /&gt;ratusan wartel di tempat-tempat terpencil di pelosok Indonesia. Atau &lt;br /&gt;pinjamkan saja kepada para petani tebu yang kesulitan modal untuk &lt;br /&gt;merawat lahan tebu mereka di Stabat. Bapakku dan rekan-rekannya &lt;br /&gt;sesama petani tebu merasa kesulitan untuk menghasilkan tebu-tebu &lt;br /&gt;yang kadar gulanya cukup tinggi. Mereka kekurangan dana untuk bisa &lt;br /&gt;membeli pupuk, obat hama, dan menggaji pekerja harian untuk &lt;br /&gt;menyiangi tebu-tebu mereka. Atau bisa juga kepada peternak babi di &lt;br /&gt;Medan. Mereka kesulitan dana untuk membeli ampas tahu dan pakan &lt;br /&gt;ternak lainnya yang semakin mahal saja. Atau juga kepada nanguda-ku&lt;br /&gt; di Pangururan, Samosir. Dia kesulitan membeli benih bawang merah. &lt;br /&gt;Makin mahal saja katanya. Hendaklah yang melek baca &lt;br /&gt;mempertimbangkannya. Yang lagi takut, mikha. (ms/280804)&lt;br /&gt;
</description>
</item>
</channel>
</rss>