23/02/2005
DUHAI TELEVISIKU, KAMU KOK GINI SIH...
Sepulang kerja biasanya saya mengisi istirahat sejenak dengan
menonton televisi. Dengan remote di tangan, saya mencoba
memilih saluran yang menarik dan ringan. Tapi jarang yang
menarik. Satu-satunya yang segar dan cukup menyenangkan
cuma sebuah sinetron tentang kehidupan rakyat kecil di sebuah
sudut kota metropoliltan, Bajaj Bajuri. Selebihnya sampai saat ini
saya masih marah, jengah dan bosan.
Menu tayangan TV kesayanganku akhir-akhir ini membosankan.
Di stasiun T ada sinetron yang mengumbar kekerasan dunia gaib.
Di stasiun S ada sinetron yang menyajikan kekejaman seorang
tante kepada seorang gadis kecil yang dipaksakan lugu
(atau bodoh?). Bahkan sekolah, yang seharusnya jeli
mempertimbangkan kualitas sumber daya guru, apalagi BP3,
dianggap terlalu bodoh untuk diperdaya oleh penyamaran si tante
jahat untuk memuluskan rencana penindasan sang tante.
Sementara di stasiun lain sedang menggelar siaran langsung
program menyanyi. Penyanyinya adalah mereka yang pernah
dimenangkan oleh produk teknologi komunikasi, pesan singkat sms.
Bukan oleh objektifitas pada substansi dasar yang diperlukan seorang
penyanyi, suara yang enak dan bagus didengar. Kayaknya semua
yang bisa bersuara sudah boleh muncul di televisi saat ini, asal
nyangkut di hati pemirsa dan punya massa. Aduh mak...
Ada pula sinetron yang penggalan kisahnya menceritakan seorang ibu
yang mempermalukan anak gadisnya di depan teman-temannya di
kampus, meneriakinya dan tanpa rasa malu menyuruh anaknya
memilih pria kaya menjadi calon suami pilihan. Wuuih, wuih,
apakah benar ini ada? Atau hanya sekedar imajinasi liar sang penulis
skenario atau memang buah trauma masa lalu sang penulis?
Aduh mak, apa pula ini.
Entah ada kaitannya atau tidak, saya pernah chatting dengan seorang
teman baru. Katanya dia banyak terlibat dalam produksi
sinetron-sinetron di Indonesia. Aku melihat namanya sering muncul di
antara deretan nama-nama orang yang terlibat dalam tim produksi di
akhir tayangan sinetron. Dia juga memakai nama samaran lain, nama
pacarnya, untuk membantu perusahaan lain menyukseskan produksi
sinetronnya. Katanya pula dia tidak mesti mengecap pendidikan yang
tinggi atau khusus di bidang perfilman untuk lolos terlibat dan berkreasi
serta membumbui cerita dalam produksi tayangan sinetron mereka
Berita lain menyebutkan, ada sinetron yang jalan ceritanya malah
dikarang (dikarang-karang) di lokasi sesaat sebelum shooting.
Apakah ada kaitannya?
Saya takut kita menjadi sangat terbiasa melahap sesuatu yang buruk.
Seorang teman pernah mengatakan sebuah kalimat yang saya rasa
ada benarnya. ”Aku mengganti speaker mobilku dengan yang lebih
baik. Aku tidak mau menjadi imun dengan suara speaker yang kurang
bagus dan kurang sensitif mengenali suara yang berkualitas.
” Aku pikir kita seharusnya begitu juga. Jangan biasakan menikmati
sesuatu yang buruk, nanti daya kecap kita melemah dan menjadi lupa
mana yang baik. Apa karena itu kita kesusahan mendefisikan kata
’pornografi’ dan ’pornoaksi’? Saya sebagai orang awam jadi
bertanya-tanya apakah tidak ada standar penayangan acara yang
menggunakan media massa seperti televisi? Saya kurang tahu juga.
Yah seperti lembaga sensor LSF begitulah, tapi bukan yang harus
selalu didikte baru ngeh lho...
Saya juga takut kalau apa yang dikatakan Ted Bundy terbukti benar.
Ted Bundy bukan seorang pakar komunikasi atau seorang peramal.
Ia cuma terpidana mati atas pembunuhan sadis yang dilakukannya
terhadap 29 wanita. Seorang pakar keluarga berkesempatan
mewawancarai Ted beberapa menit sebelum eksekusi hukuman
matinya. Ted memesankankan hal penting. ”Sesuatu sedang terjadi di
kota Anda. Kota Anda terlalu longgar. Ada banyak yang seperti saya.”
Ted Bundy terdorong berperilaku sadis karena setiap waktu disuguhi
dengan sangat bebas akan tontonan dalam berbagai variasi bentuk yang
menggambarkan kekerasan, pornografi, ketidaklogisan, dan trik-trik
jahat yang di sisi lain diklaim sebagai keberhasilan ketika pemerannya
berhasil menipu penonton dengan aktingnya. Atau sebuah kesuksesan
kameraman dan wartawan dalam menangkap dan merekam shoot-shoot
kejadian kriminalitas yang tidak selalu ada setiap hari.
Waktu demi waktu merupakan bom waktu yang seketika akan
memuntahkan kandungan kebusukan, dimatangkan oleh sajian media
yang buruk, dan dirawat oleh produk undang-undang yang tidak bergigi.
Ada berjuta-juta pasang mata lugu yang setiap waktu sedang menyerap
apapun yang disajikan televisi, baik atau buruk, sebagai ganti
ketidakhadiran orangtua yang sibuk berkarir di luar rumah. Mungkin juga
termasuk sepasang mata anak kebanggaan Anda. Ada berjuta jiwa yang
masih dalam proses belajar mengadopsi nilai-nilai kebenaran dalam hidup.
Mungkin saja termasuk cucu kesayangan Anda. Saya takut ada ratusan
bahkan ribuan Ted Bundy lain akan dieksekusi mati dalam 10 tahun
ke depan. Tolonglah bertindak.
Kita sebenarnya mampu memproduksi tayangan yang lebih baik, yang
dapat memenuhi kebutuhan akan logika, keindahan, kesantunan, dan
mengandung nilai pendidikan yang positif. Kan sayang dana yang
sangat besar dihabiskan untuk mendanai sebuah tayangan yang
tidak bermutu baik. Mendingan investasikan saja untuk membuka
ratusan wartel di tempat-tempat terpencil di pelosok Indonesia. Atau
pinjamkan saja kepada para petani tebu yang kesulitan modal untuk
merawat lahan tebu mereka di Stabat. Bapakku dan rekan-rekannya
sesama petani tebu merasa kesulitan untuk menghasilkan tebu-tebu
yang kadar gulanya cukup tinggi. Mereka kekurangan dana untuk bisa
membeli pupuk, obat hama, dan menggaji pekerja harian untuk
menyiangi tebu-tebu mereka. Atau bisa juga kepada peternak babi di
Medan. Mereka kesulitan dana untuk membeli ampas tahu dan pakan
ternak lainnya yang semakin mahal saja. Atau juga kepada nanguda-ku
di Pangururan, Samosir. Dia kesulitan membeli benih bawang merah.
Makin mahal saja katanya. Hendaklah yang melek baca
mempertimbangkannya. Yang lagi takut, mikha. (ms/280804)
06:20 Posted in Article | Permalink | Comments (0) | Email this

